Narasi Perjuangan FKUI 2018 – Rafif Elang Danendra

Spread the love

Pendidikan Dokter UI, Pendidikan Dokter Kelas Internasional, Bimbingan ALumni UI, Bimbel Terbaik di Indonesia, SBMPTN, UTBK, SIMAK KKI UI, SUCCESS CAMP UI, Karantina Masuk UI BImbingan Alumni UI, Kedokteran UI

Pendidikan Dokter UI, Pendidikan Dokter Kelas Internasional, Bimbingan ALumni UI, Bimbel Terbaik di Indonesia, SBMPTN, UTBK, SIMAK KKI UI, SUCCESS CAMP UI, Karantina Masuk UI BImbingan Alumni UI, Kedokteran UI

Nama saya Rafif Elang Danendra. Kata elang dalam nama saya diambil dari burung elang karena ayah saya menyukai burung tersebut. Mungkin juga sebagai doa orangtua saya agar saya dapat terbang dengan berani ke langit yang tinggi. Sayangnya, tidak semua doa dikabulkan oleh Tuhan. Awalnya, saya sempat menjadi anak yang antusias dalam mengejar cita-citanya. Sejak mengetahui bahwa cita-cita saya sebagai arkeolog tidak dapat digunakan untuk menyambung kehidupan di Indonesia, saya berhenti berusaha. Saya pun berubah menjadi individu yang tidak memiliki ambisi dalam hidup.
Hal ini terus berlanjut hingga saya beranjak dewasa. Saya seharusnya sudah mulai menentukan pilihan universitas saya sebelum menginjak bangku kelas tiga, namun saya masih belum menentukan pilihan hingga dua hari sebelum ditutupnya pendaftaran SNMPTN. Saya bingung karena sebenarnya tiap jurusan sama saja bagi saya, tidak ada satu pun yang saya minati. Keluarga ingin saya masuk jurusan pendidikan dokter, tetapi saya tidak ingin kuliah terlalu lama. Saya ingin lebih cepat menghasilkan uang sendiri. Saya mulai menimbang-nimbang jurusan mana yang tidak hanya dapat saya masuki dengan nilai saya, tetapi juga memiliki nama di Indonesia. Pilihan saya jatuh pada jurusan informatika dan jurusan teknik komputer Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dua jurusan tersebut memungkinkan saya untuk bermain komputer selama masa perkuliahan.
Hari pengumuman pun tiba. Saya masuk di jurusan teknik komputer. Menurut saya, seharusnya nilai saya cukup untuk masuk informatika, tetapi saya lupa memperkirakan teman saya yang memiliki piagam di bidang tersebut. Ada sedikit rasa kecewa karena jurusan informatika lebih prestise jika dibandingkan dengan teknik komputer. Hari-hari saya di ITS pun dimulai. Awalnya, saya cukup senang menjalani perkuliahan. Masa orientasi sangat menyenangkan. Saya bertemu banyak orang dengan berbagai latar, walaupun mayoritas dari mereka adalah orang Jawa Timur. Saya mulai merasa tidak bahagia ketika perkuliahan dimulai. Pelajaran dapat saya ikuti, namun saya sama sekali tidak tertarik dengan materi yang diajarkan. Lingkungan di sana pun mulai terasa tidak enak. Saya kurang cocok dengan budaya di kampus, selain itu saya merasa inferior jika dibandingkan dengan teman-teman saya satu jurusan maupun teman-teman dari SMA. Saya mengalami depresi. Tidak akan ada masa depan bagi saya jika saya tetap di sini. Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar dari ITS. Setelah berdiskusi dengan orangtua, akhirnya saya benar-benar pergi dari sana.
Saya menjadi seorang pengangguran di rumah. Tanpa sekolah dan tanpa pekerjaan, hidup saya terasa sangat bebas. Kebebasan semu itu di berlangsung lama. Orangtua meminta saya kuliah. Saya kembali bingung memilih tempat kuliah. Tentu saya tidak ingin salah pilih dan menyia-nyiakan satu tahun lagi. Kelaurga saya ingin saya menjadi dokter, di mana pun saya harus kuliah. Saya tidak ingin asal masuk universitas. Saya ingin belajar di universitas yang prestise dan belajar dengan orang-orang yang dapat membangkitkan semangat saya. Jadilah saya memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga (UNAIR). Benar-benar pilihan yang ambisius, bahkan saya tidak yakin dapat masuk di tiga universitas tersebut.
Untuk meningkatkan kesempatan saya lolos SBMPTN, orangtua saya mengasingkan saya ke Depok untuk belajar di sebuah bimbingan belajar. Selama di sana, saya menginap di sebuah apartemen yang diapit mall dan pasar. Sama seperti saat di ITS, masa-masa awal bimbingan belajar saya tidak terasa berat. Saya belajar hanya enam jam sehari, jauh lebih sebentar jika dibandingkan masa SMA yang tiap harinya bisa sampai sembilan jam. Hal yang menganggu saya di awal hanyalah bau tidak sedap dari pasar yang bercampur dengan asap kendaraan dan pabrik. Setelah sebulan berjalan, saya mulai merasa muak. Mulai dari makanan yang tidak enak dan mahal, masalah dengan beberapa pengajar, air mandi yang dingin dan terkadang bau, hingga ketidakinginan saya untuk masuk di jurusan pendidikan dokter. Saya kembali depresi. Mungkin depresi memang penyakit untuk anak-anak seumuran saya. Saya butuh ketenangan untuk memulihkan kondisi saya.
Saya cuti dari bimbingan belajar selama satu minggu. Saya gunakan waktu satu minggu itu untuk memikirkan kembali keputusan saya. Kenapa saya tidak menentukan pilihan saya sendiri? Kenapa saya mau masuk pendidikan dokter? Kenapa saya mau berusaha sekeras ini untuk jurusan yang tidak saya sukai? Saya merasa masuk pendidikan dokter, terutama pendidikan dokter di UI adalah sesuatu yang tidak ada untungnya. Jika diibaratkan, bagai memanjat pohon yang sangat tinggi dan memiliki batang yang kasar. Buahnya pun tidak dapat saya nikmati sendiri karena butuh kerja sama dengan orang yang menunggu di bawah untuk menangkap buah yang saya petik. Perjuangan masuk jurusan pendidikan dokter itu tidak mudah, butuh perjuangan ekstra, dan tidak bisa diselesaikan sendiri. Satu minggu belum cukup untuk menemukan alasan masuk pendidikan dokter di UI, tetapi paling tidak cukup untuk memberi saya motivasi untuk belajar.
Saya kembali melanjutkan bimbingan belajar. Satu bulan sebelum SBMPTN, jadwal diperpadat. Setiap hari, saya belajar lima sesi dengan durasi tiap sesinya dua jam. Jadwal baru ini benar-benar sangat melelahkan, bahkan terkadang saya sengaja tidak makan siang agar dapat beristirahat lebih lama. Tiap hari minggu, para peserta bimbingan belajar menjalani try out untuk mengukur kemampuan mereka. Jika diranking, nilai saya sebenarnya terbilang cukup baik. Saya juga sempat menempati ranking pertama di try out kedua. Sayangnya, nilai tersebut masih jauh dari passing grade yang saya temukan daring.
Hingga hari SBMPTN, saya masih tidak yakin dapat lolos. Saat tes, saya benar-benar tidak dapat berkonsentrasi. Saya merasa pusing, ingin lari ke toilet, dan ragu dengan setiap jawaban saya. Di sesi kedua, kondisi saya masih sama. Satu-satunya yang berbeda adalah saya dapat mengerjakan lebih banyak soal dari sesi pertama. Hanya empat soal yang tidak saya kerjakan. Walaupun begitu, saya masih tidak yakin. Saya ingat sekali bahwa saya meminta orangtua saya agar jangan berharap banyak dari saya. Hari itu, saya langsung pulang ke Kudus. Sepanjang perjalanan saya masih merasa tidak enak. Sekitar pukul dua belas malam, saya sampai di rumah. Begitu masuk ke kamar saya dan melihat kucing saya, saya merasa lebih baik. Keesokan harinya, kondisi fisik saya kembali pulih.
Saya masih merasa takut, sehingga saya berusaha melupakan kenyataan. Setiap hari saya bermain gim hingga pagi, lalu lanjut tidur hingga siang hari. Hari terasa lambat. Rasanya sulit untuk tenang ketika hasil SBMPTN masih menghantui saya. Saya berusaha mencari aktivitas sebanyak mungkin agar lupa bahwa saat itu saya adalah pengangguran yang nasibnya terkatung-katung menunggu pengumuman. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tibalah saat pengumuman.
Hari itu, saya tidak fungsional. Dari pagi saya hanya berguling-guling di tempat tidur. Saya berusaha mengalihkan pikiran saya dengan chatting dengan tim gim saya. Dua orang mengatakan bahwa saya bisa masuk UI. Saya hanya membalas dengan emoji tertawa. Jam tiga tepat. Saatnya pengumuman. Saya memasukkan nomor ujian saya. Saya melihat tulisan pendidikan dokter. Saya diterima. Saya scroll layar ke atas dan saya melihat tulisan Universitas Indonesia. Saya terdiam beberapa detik, kemudian melompat. Saya berteriak. Bukan karena bahagia, saya tidak tahu apa kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang saya rasakan saat itu. UI sama sekali tidak pernah terpikirkan di benak saya, saya berharap masuk UGM bersama rekan-rekan SMA saya atau UNAIR yang saya sudah kenal kotanya, tetapi saya masuk UI. Suatu tempat yang selama ini dianggap puncak yang tidak tergapai. Orangtua saya sangat bahagia. Chat mulai berdatangan di handphone saya. Semua menanyakan pertanyaan yang sama. Saya tidak membalas chat dari orang-orang. Bukan karena saya sombong, tetapi karena tangan saya gemetar. Saya bahkan tidak bisa memegang handphone. Hingga malam tiba, saya sibuk membalas pesan-pesan dari teman-teman saya. Ketika saya tiduran di kasur, baru terasa bahwa saya resmi diterima di UI. Tentu saya senang dan bangga diterima di pendidikan dokter UI, tetapi banyak hal yang membuat khawatir. Saya takut saya tidak dapat beradaptasi di sana. Saya juga masih sedikit ragu mengenai pilihan jurusan saya. Saya berusaha lari dari kenyataan bahwa saya diterima di UI. Selama sekitar dua minggu setelah pengumuman, saya berusaha tidak membuka website UI sama sekali. Saya baru mempersiapkan hal-hal yang harus saya bawa dua hari sebelum berangkat ke Depok. Saya pun kembali ke Depok setelah hampir tiga bulan di Kudus.
Agenda pertama dari rangkaian kegiatan untuk mahasiswa baru adalah daftar ulang. Saya berangkat bersama dengan anak FKUI yang bertempat tinggal di apartemen yang sama. Saya sedikit tenang karena mereka terlihat tidak jauh berbeda dengan mahasiswa pada umumnya. Ketika sampai di Balairung, alih-alih berbicara mengenai topik-topik ringan, beberapa anak FKUI justru membicarakan buku berat dan olimpiade. Saya sangat terkejut, saya merasa bahwa saya bukan apa-apa dibandingkan mereka. Hari berikutnya adalah gathering angkatan. Saya berkenalan dengan anak-anak FKUI yang lain. Setelah mengenal mereka, saya baru sadar bahwa mereka pun sama seperti saya, hanya manusia biasa. Semakin banyak hari yang saya lalui bersama mereka, semakin saya mengenal mereka. Ternyata sehebat apapun mereka, tetap saja mereka hanyalah mahasiswa biasa. Saya bersyukur dapat mengenal orang-orang hebat seperti rekan-rekan saya di FKUI. Saya akui pencapaian yang sudah mereka raih jauh lebih hebat dari saya, namun saya justru termotivasi. Saya ingin berdiri sejajar dengan mereka. Salah satu masalah saya di sini, pergaulan, sudah terselesaikan. Masalah yang lain saya terselesaikan ketika saya mengikuti briefing PSAF. Pengaruh dari keluarga, teman, dan rekan ditambah hal-hal yang disampaikan saat briefing membuat saya lebih tertarik dengan profesi dokter.
Tidak ada lagi keraguan mengenai pilihan yang telah saya buat. Dengan motivasi saya yang sudah diperbarui, saya rasa saya dapat menghadapi masalah-masalah yang akan datang. Tahun depan saya pasti akan menemui masalah-masalah baru, tetapi saya pasti bisa menghadapinya. Ketika nilai saya keluar tahun depan, saya yakin tidak ada satu pun nilai B. Pak Kas, guru saya, akan menghukum saya jika ada nilai yang menyentuh B, sehingga mendapat B bukanlah pilihan. Di tahun ketiga, saya harus dapat membuat perubahan. Saya berharap saya dapat menjadi pengurus organisasi mahasiswa UI dari Kudus yang selama ini belum pernah ada. Kemudian lima tahun dari sekarang, saya tentu sudah menjadi seorang sarjana kedokteran dan sedang dalam proses mendapatkan gelar dokter. Saya sudah banyak mendengar tentang sulitnya mendapat gelar dokter, tetapi bersama rekan-rekan saya, hal itu pasti dapat tercapai. Dua tahun setelahnya, pada tahun ketujuh, saya harus sudah mendapat gelar dokter. Gagal di ujian bukan pilihan karena saya sudah membuang satu tahun saya untuk mengulang kuliah. Sepuluh tahun yang akan datang, jadi seperti apa saya nanti? Saya tentu berharap saya sudah menjadi dokter spesialis. Saya masih belum memiliki gambaran jelas tentang bidang apa yang ingin saya tekuni, namun perjalan saya selama sepuluh tahun pasti dapat membimbing saya ke pilihan yang paling tepat.
Perjuangan saya tidak akan pernah selesai. Menjadi dokter spesialis bukanlah akhir dari perjalanan. Saya berharap dengan menjadi dokter spesialis saya dapat memenuhi ekspektasi keluarga terhadap saya dan membahagiakan mereka. Itu pun masih belum cukup, saya juga harus meninggalkan jejak di FKUI. Semoga waktu yang saya lalui di sana dapat membuat FKUI menjadi lebih baik. Kemudian, tentang negara yang sedang sakit ini. Banyak masalah-masalah yang menuntut untuk diselesaikan di Indonesia. Saya sendiri tidak mungkin dapat mengubah satu negara, tetapi bersama generasi-generasi muda yang lain, saya yakin kami dapat mengobati penyakit negara ini. Saya harap Indonesia dapat menjadi lebih baik.
Terakhir, untuk kalian yang ingin masuk FKUI. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, masuk FKUI bagai memanjat pohon yang sangat tinggi dan memiliki batang yang kasar. Buahnya pun tidak dapat kalian nikmati sendiri. Perjalanan kalian akan terasa sangat berat dan terasa tidak sebanding dengan hasil yang akan kalian capai. Meskipun begitu, berbagi kebahagiaan akan membuat kalian lebih bahagia. Memanjat pohon ini adalah hal yang berat, tetapi percayalah bahwa pemandangan di atas sebanding dengan apa yang telah kalian lalui. Tidak apa-apa jika kalian ragu di perjalanan. Selama kalian terus berjalan ke depan, kalian pasti akan menemukan jalan.

Keterangan: Rafif Elang Danendra adalah siswa Bimbingan Alumni UI Program Privat (Guru datang ke tempat siswa), Belajar fokus privat selama 6 Bulan untuk persiapan total menghadapi SBMPTN 2018, Kemudian dilanjutkan dengan Program Success Camp UI 2018 selama kurang lebih 1 bulan dengan belajar formal sehari 10 Jam (5 Sesi) dan pada akhirnya berhasil masuk FK UI 2018 melalui SBMPTN 2018.

Sumber: https://fkui2018.wixsite.com/website/blog/narasi-perjuangan-fkui-2018-rafif-elang-danendra

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *